Sejak tahu hamil, salah satu keinginan calon ayah ibu adalah memberikan ASI untuk bayinya. Sekilas ini mudah. Apa susahnya memberi ASI untuk bayi? Kan tinggal buka kancing baju? Ternyata proses untuk mendapatkan ASI tidak semudah itu.
Menurut data dari Unicef di 2024, hanya 48% bayi yang mendapat ASI eksklusif di usia 0-6 bulan. Sisanya yang 52 % tidak mendapat ASI. Masih lebih besar yang tidak daripada yang dapat ASI. Walau demikian kita tetap optimis ya.
A. Hormon Penghasil ASI
Pada dasarnya ASI dihasilkan oleh ibu. Tetapi salah besar kalau hanya ibu yang harus mengupayakan ASI. Bikin anak berdua, mengurusnya juga bersama, ya kan?
ASI itu pekerjaan cinta, pekerjaan hati. Kalau tidak dari hati, ASI tidak akan lancar. Apa maksud pekerjaan hati? ASI hanya bisa dihasilkan jika ibu merasa tenang, merasa didukung.
Hal ini timbul karena ada dua hormon yang terkait perasaan, bekerjasama dalam menghasilkan ASI, yaitu:
1. Hormon Prolaktin
Hormon prolaktin merangsang kelenjar susu untuk menghasilkan ASI. Diproduksi di bagian kelenjar hipofisis. Dimana produksinya dikendalikan oleh hormon estrogen dan dopamin.
Hormon estrogen berperan dalam reproduksi, menjaga kesehatan jantung, menjaga suasana hati, memori, dan libido. Sedangkan hormon dopamin adalah senyawa kimia di otak yang berperan mengatur suasana hati, gerakan, dan ingatan manusia.
Hormon estrogen dan dopamin berhubungan dengan suasana hati. Karena itu hati yang bahagia adalah obat. Bagi semua orang, apalagi bagi ibu menyusui.
2. Hormon Oksitosin
Hormon oksitosin dikenal juga sebagai hormon cinta. Selain wanita, pria juga memilikinya. Wanita akan menghasilkan hormon oksitosin seumur hidupnya. Maka tidak heran kalau ada istilah, no women no life, xixi.
Lalu apa saja persiapan yang perlu dilakukan calon ayah ASI?
B. Persiapan Calon Ayah ASI
A. Persiapan Dukungan,
Menjadi ayah berarti kerelaan berkorban waktu dan tenaga. Saat istri baru melahirkan maka ia akan sepenuhnya bergantung padamu.
Melahirkan itu sama dengan proses retaknya 20 tulang secara bersamaan. Tidak ada orang yang gembira ketika tulangnya retak.
Iya, istri bahagia karena bisa memberimu keturunan. Tapi namanya sakit, ya tetap sakit. Mau caesar mau normal ya sakitnya tidak jauh beda. Kok bisa mengatakan itu? Karena Aku pernah merasakan dua duanya, hiks.
Sekujur tubuh sakit. Mau miring kiri kanan saja sakit. Sebagian ibu baru mengalami pendarahan luar biasa, bahkan lumpuh, setelah melahirkan.
Calon ayah harus siap memberi dukungan. Karena wanita yang baru melahirkan, adalah kondisi selemah lemahnya perempuan.
B. Persiapan Fisik,
Mendekati HPL, biasanya istri akan susah tidur. Badannya semakin berat. Secara otomatis, ayah akan melakukan pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya dilakukan ibu. Memang sebagian ayah diberi kemampuan untuk mencari ART. Tetapi sebagian lain tidak mampu menggaji ART.
Jadi mau tidak mau ayah harus mengerjakan pekerjaan rumah.
Segala aktivitas rumah tangga itu butuh fisik yang kuat. Apalagi kalau punya toddler ya kan? Belum kalau ayah masih harus mencari nafkah.
Maka para lelaki, olahragalah agar fisikmu kuat. Olahraga tidak harus ke gym. Olahraga bisa saja 15 menit sehari jogging depan rumah. Olahraga bisa jadi 15 menit Senam Kesehatan jasmani pakai Youtube. Olahraga juga bisa berarti menemani istri sebulan jalan pagi jelang HPL.
Boleh 15 menit sehari tetapi rutin, daripada 1 jam sehari tetapi jarang-jarang.
Olahraga akan mempermudah kita menjalankan aktivitas rumah tangga tanpa capek. Sediakan waktu khusus untuk olahraga. Jangan waktu sisa.
C. Salat Tepat Waktu,
Lho, kok bahas salat? Sepertinya ini bukan tempatnya bahas salat.
Jangan salah ya Mom. Kesibukan mengurus bayi, kadang buat kita mengabaikan salat, lupa ibadah.
Tuhan sudah kasih kita rezeki berupa anak, lalu kita malah lupa beribadah, kan aneh.
Selalu ingat salat tepat waktu ya. Sekalian Subuhnya di Mesjid. Menemani istri melewati predikat ibu baru itu, takkan bisa jika cuma mengandalkan diri sendiri. Kita harus menyertakan Tuhan dalam perjalanan yang tidak mudah ini.
D. Banyak Membaca,
Zaman sekarang, membaca tidak harus selalu dari buku. Membaca bisa dilakukan lebih mudah kapanpun dimanapun, dengan HP.
Jangan karena terlalu asyik nonton sepak bola, mancing mania, bahkan life sale baju lebaran, sampai lupa mencari info tentang ASI.
E. Menerima Perubahan Istri,
Sebelum melahirkan, istri masih sempat dandan. Masih sempat jalan-jalan. Masih sempat melayani suaminya. Nah dalam 2 bulan ke depan, bersiaplah untuk menerima istri yang rada gemuk, tidak sempat dandan, bisa mandi saja sudah syukur, dan bau ASI.
ASI bau? Sebenarnya bukan bau sih, tapi aroma. Aroma yang disukai bayi, dan bisa membuat para bapak hemat jutaan rupiah setiap bulan.
Solusinya? Sediakan istri banyak baju ganti ya Pak. Supaya istri bisa ganti baju minimal 3 kali sehari.
Maka dari itu bersiaplah akan perubahan ini. Jika memang tidak nyaman melihat istri yang berubah, bantu pekerjaan rumah, bantu juga jaga anak. Nanti istri bisa kembali lagi ke setelan awal. Tapi semua butuh waktu. Yang sabar ya.
Lalu bagaimana jika tidak punya waktu bantu istri? Ada dua solusi ya, Yah. Pertama sewa ART. Kedua, minimal jaga anak ketika istri minta bantuan.
G. Persiapan Mental,
Selain 5 persiapan di atas, ada satu lagi persiapan yang penting bagi calon ayah ASI. Yaitu persiapan mental.
Ketika kamu sudah tahu ilmu tentang anak, punya cara sendiri dalam membesarkan anak, jangan biarkan orang lain ikut campur. Bahkan jika itu kakek nenek si anak.
Misalnya, ayah ingin anaknya ASI. Tetapi kakek nenek mengatakan, beri susu formula saja, biar cepat. Atau ayah ingin anaknya susu formula saja karena ASI nya tidak keluar. Tetapi kakek nenek berkata kasih pisang saja. Kan susu mahal.
Gubrak!
Punya anak adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup lelaki. Kamu akan bertanggung jawab kepadanya sampai dia dewasa.
Punya anak adalah awal dimana kita berani mengatakan pada orang orang, my kids is my rule.
Berusahalah untuk selalu mendukung istri, selama istri berbuat hal yang baik dan tidak keluar dari ajaran agama.
Karena menjadi kepala keluarga haruslah bermental kuat.
Setau saya ASI akan bermasalah kalau ibunya ga enjoy dan stres. Tentunya tugas suaminya untuk membuat istri enjoy dan ga stres menghadapi kehidupan yang baru. Di samping itu juga cukup istirahat
BalasHapusIbu yang baru melahirkan butuh support system dari lingkungan terdekat, dukungan suami sangat membantu ibu segera pulih dan memperlancar ASI juga ya
BalasHapusTernyata ada ayah ASI juga ya. Setuju sekali bila para ayah harus mendukung istri yg baru saja melahirkan. Ikhlas membantu pekerjaan rumah tangga, bantu jagain anak, mengganti popok dll, sampai kesehatan istri benar2 pulih setelah lahiran.
BalasHapusYup betul banget. ASI bisa menghemat jutaan rupiah karena tidak beli sufor. Tetapi usaha untuk mendapat ASI juga tidak mudah dan tetap butuh biaya. Harus siap mental dan suami juga butuh persiapan mental jadi ayah ASI
BalasHapusSetuju banget mbaaa. Bukan hanya ibu yang mempersiapkan ASI, tapi ayah juga. Ayah sebagai support system terbaik akan bisa membantu ibu menghasilkan ASI yang banyak. Please calon ayah ASI, bikin istrinya bahagia terus yaaaaa.
BalasHapusKeren ini... ini informasi yang sangat baik untuk kami para pria. Ya, saya ayah anak 1 dan saat istri saya melewati fase menyusui saya harus banyak mengerti dan membantu. Betul yang disampaikan pada artikel di atas.
BalasHapusSetuju sekali, ayah juga memiliki peran dalam mengASIhi, tidak hanya memberikan dukungan yang maksimal tapi juga membantu melancarkan aktivitas menyusui ibu karena kondisi kesehatan mental ibu juga mempengaruhi kelancaran ASI.
BalasHapusWah, artikel ini bener-bener bikin calon ayah makin sadar kalau jadi 'Ayah ASI' itu nggak sekadar titel aja, tapi ada banyak persiapan yang harus dilakukan! Dari dukungan emosional, fisik, sampai mental, semuanya penting banget. Salut deh buat para ayah yang siap support istri dan bayi dengan sepenuh hati!
BalasHapusArtikel ini benar-benar membuka wawasan para calon ayah! Selama ini banyak yang mengira tugas menyusui hanya urusan ibu, padahal support system dari suami itu kunci utama kelancaran ASI. Bagian tentang hormon dan pentingnya mental yang kuat buat calon ayah benar-benar relate. Gak cuma fisik yang harus disiapkan, tapi juga mental dan kesabaran menghadapi perubahan pasca persalinan.
BalasHapus